Opini

Pariwisata NTB Butuh Lompatan Kualitas, Bukan Sekadar Ramai Kunjungan

Oleh: Cahyadi Kurniawan, S.IP., M.IP
(Akademisi)

Sebagai pengamat pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB), saya melihat bahwa sektor ini sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, NTB berhasil menarik perhatian dunia melalui kawasan Mandalika dengan gelaran balap internasional di Pertamina Mandalika International Circuit. Di sisi lain, kita masih menghadapi persoalan klasik: sampah, tata kelola destinasi, dan ketimpangan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Event internasional memang berhasil mendongkrak eksposur NTB. Namun pertanyaannya, apakah efek ekonominya benar-benar merata? Banyak pelaku UMKM lokal mengaku hanya merasakan dampak sesaat ketika event berlangsung. Setelah itu, kunjungan kembali fluktuatif. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata NTB belum sepenuhnya bertransformasi dari berbasis event menjadi berbasis ekosistem.

Masalah lain yang masih nyata adalah persoalan sampah dan daya dukung lingkungan. Destinasi seperti Gunung Rinjani dan kawasan tiga gili—terutama Gili Trawangan—kerap menghadapi persoalan limbah dan tekanan wisata massal. Ketika musim liburan tiba, volume sampah meningkat drastis. Ini menjadi alarm bahwa pengelolaan lingkungan belum berjalan optimal.

Selain itu, kita juga melihat ketimpangan infrastruktur antarwilayah. Lombok bagian selatan dan barat relatif berkembang pesat, sementara beberapa kawasan di Pulau Sumbawa masih berjuang membangun aksesibilitas dan promosi. Padahal potensi wisata di Sumbawa—baik bahari, budaya, maupun geopark—tidak kalah menarik.

Yang juga perlu dikritisi adalah kesiapan sumber daya manusia. Banyak pelaku wisata skala kecil masih menghadapi keterbatasan dalam bahasa asing, pemasaran digital, dan manajemen layanan. Jika NTB ingin bersaing di level internasional, peningkatan kapasitas SDM harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap program.

Saya melihat NTB terlalu fokus pada citra “destinasi besar” tanpa memperkuat fondasi dasar: kebersihan, kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan. Pariwisata yang sehat bukan hanya ramai saat event, tetapi stabil sepanjang tahun. Kita membutuhkan diversifikasi atraksi—wisata budaya, desa wisata, agrowisata, hingga ekowisata berbasis komunitas.

Kita juga perlu lebih jujur dalam evaluasi. Jika okupansi hotel menurun di luar musim event, itu harus menjadi bahan refleksi. Jika masyarakat lokal belum sepenuhnya merasakan peningkatan kesejahteraan, itu berarti model pembangunan pariwisata perlu disempurnakan.

Saya tetap optimis terhadap masa depan pariwisata NTB. Modal alam dan budaya kita sangat kuat. Namun optimisme harus disertai keberanian melakukan pembenahan. NTB tidak cukup hanya dikenal karena Mandalika. NTB harus dikenal sebagai daerah yang mampu mengelola pariwisata secara berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada masyarakatnya sendiri.

Inilah momentum bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas untuk duduk bersama. Pariwisata bukan sekadar industri, tetapi wajah daerah. Jika dikelola dengan serius dan realistis, NTB bisa menjadi contoh pengembangan destinasi yang tidak hanya viral, tetapi juga berdaya dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *